Senin, 10 Maret 2014

•Meja Kayu•

Suatu ketika, ada seorang kakek yang tinggal bersama anak,menantu dan juga cucunya yang berumur 6 tahun. Si kakek begitu rapuh, pengelihatannya sudah buram dan tangannya bergetar.

Karena tangannya bergetar, saat makan malam bersama, si kakek sering menjatuhkan sendok dan garpu, menumpahkan air minum dan menjatuhkan piring.

Suami-istri ini pun kesal. Mereka merasa direpotkan olehnya. "Aku sudah muak membereskan semua ini untuknya. Kita harus lakukan sesuatu." Lalu, suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan.

Di meja itulah si kakek harus makan sendirian agar tidak mengganggu yang lainnya. Saat keluarga itu sedang makan malam, sering terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada air mata yang mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini malah sebuah omelan agar tidak menjatuhkan piring lagi.

Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah melihat anaknya sedang memainkan mainan kayu. Lalu ia bertanya "kamu sedang buat apa?". Anaknya menjawab, "aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saat aku besar nanti. Nanti, akan ku letakkan di sudut itu, tempat kakek biasa makan."

Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya. Jawaban itu membuat kedua orang tuanya begitu sedih. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Genangan air mata pun terlihat di mata mereka. Kedua orang ini sadar bahwa mereka salah.

Esok malamnya, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama. Senyum merekah pada setiap orang dirumah itu termasuk si kakek. Dan kini tak ada lagi omelan yang terdengar saat si kakek menjatuhkan sesuatu

Share if you like this story!


Regards,
Rita
Qualifying Senior Gold Director
SMS/WA : 08979457457
LINE : ritayuedt
Pin : 2B0526D5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar