Senin, 19 Oktober 2015

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA

BUDAYA MENGHUKUM DAN MENGHAKIMI PARA PENDIDIK DI INDONESIA
Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

"Maaf, Bapak dari mana?"

"Dari Indonesia," jawab saya.

Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini," lanjutnya.

"Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!", dia pun melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.
Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."

Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa "gurunya salah". Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun, di lain pihak juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.

Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang "tambah pintar" dan ada pula orang yang "tambah bodoh".

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakutkan 😊

Minggu, 18 Oktober 2015

Promo Nutrishake Oktober 2015

Masih bersemangat ya?
Yukk jalanin hidup sehat dan bugar bersama Nutrishake

Mau info promo Oriflame yang super banget.
Beli 4box nutrishake bulan oktober dapatkan
-1box nutrishake rasa apa saja 498.000
-1botol madu tesso 149.000
-1botol parfum solar 399.000
-toiletry bag (ada 2tas kecil lagi didalamnya) 249.000
-dapatkan disc 50% setiap pembelian bioclinic spf 45
Total hadiah yang didapatkan adalah 1.295.000

Tunggu apalagi. Yuuk diorder sekarang!󾮗🏻󾮗🏻

#PassionBizCommunity #Wellness #WellbeingByOriflame #Healthy #Benefit #Nutrishake #OriflameID

Sabtu, 17 Oktober 2015

Bisnis Income 4jutaan, Gratis ke Bali DAN motor Honda

Mau bonus 4jt-7jt gak?mana actionnya?buruan rekrut 50 org dan ajak mereka lakukan order masing2 200bp,nyampe deh ke 10.000bp.
Jabatanmu berubah dari konsultan menjadi Senior Manager, incomemu dari puluhan ribu/ratusan ribu jadi jutaan, ikut Director Seminar Bali.



Pertahanin 6x jabatan berubah menjadi Director dapat Cash Award 7juta lohhh!! Dan berkesempatan meraih Motor Gratis  berlaku hingga Desember 2015 saja.



BISNIS Oriflame itu Pasti!!

Pasti dapat hadiah produk,pasti dapat duit, pasti dapat jalan2 Gratis, pasti dapat mobil!!!
Jadi jangan berhenti!! Kamu gak bakalan tau bulan depan atau tahun depan nasib kita, tapi kita bisa berusaha unttuk mewujudkannya dari sekarang dengan melalui prosesnya

Senin, 05 Oktober 2015

Promo Oktober 2015 GRATIS Solar edt & Sweet Toiletry Bag

Semangat pagi Passioners,

Let's ROCK and roll October!

Penasaran ada promo produk GRATIS apa bulan ini? 😊
Ini dia yang kamu tunggu! Dapatkan Solar Eau De Toilette & Sweet Toiletry Bag senilai RP.648.000,- GRATIS!!*



Syarat dan ketentuannya adalah :
1. Anda hanya dapat memilih satu dari dua cara. Tidak berlaku kelipatan.
2. Peraih kualifikasi program ini akan mendapatkan hadiah produk setelah melakukan order BP pertama minimal Rp 200.000,- dalam 1 invoice di bulan November 2015.
3. Oriflame berhak mengganti sebagian atau seluruh produk dengan produk lain yang bernilai sama apabila stok tidak tersedia di seluruh cabang Oriflame.
4. Dengan adanya program ini, maka program kualifikasi Business Class regular C10 (Oktober 2015) tidak berlaku.
5. Bila stok produk hadiah habis, Oriflame akan melakukan restock, di mana Anda akan mendapatkannya saat melakukan order berikutnya, atau kami kirim langsung ke alamat Anda. Oriflame dapat melakukan penggantian dengan produk yang bernilai sama. Informasi lebih lengkap dapat Anda lihat di Consultant Manual di dalam Starter Kit.

Info lebih lengkap:
http://id.oriflame.com/…/network/consultant-program/super-bc
Good luck Oriflamers! 😊 ‪

#‎OriflameID‬ #gratis #parfum #tas #sweettoiletrybag

Join Oriflame yukk 😊

Rita pin:2b0526d5 wa:08979457457
Www.suksesdengan4m.wordpress.com

Do it with Passion